Proses Pembuatan Gula Kelapa Organik yang Wajib Anda Ketahui

Gula Kelapa Organik

Gula kelapa organik adalah salah satu dari banyaknya macam-macam pemanis yang beredar di pasaran. Pemanis alami yang kerap dikelirukan sebagai gula merah ini memiliki rasa manis dan juga bentuk yang kental dengan ciri khasnya yaitu batok dengan warna tidak rata dan bentuk yang tidak secerah gula merah. 

Meski begitu, akhir-akhir ini gula kelapa mulai diminati sebagai alternatif dari gula putih. Hal ini disebabkan bahwa gula kelapa diketahui memiliki tingkat glikemik yang rendah sehingga aman untuk penderita diabetes. Terlebih lagi, khasiat yang ditawarkan oleh pemanis ini tidak sembarangan karena gula kelapa organik kaya akan zinc, zat besi, vitamin C dan lain sebagainya. 

Khasiat-khasiat tersebut tentu dapat dirasakan maksimal apabila dibalik proses pembuatannya, produsen tetap memperhatikan beberapa langkah yang penting untuk menjaga kesegaran dari pemanis tersebut. Mau tahu lebih lanjut? yuk simak proses pembuatan gula kelapa organik yang wajib anda ketahui.

Pengambilan Nira Kelapa

Langkah awal dalam proses pembuatan gula kelapa adalah dengan mengambil nira. Nira diperoleh dari penyadapan mayang bunga kelapa yang sudah cukup umur. Nira yang digunakan harus mempunyai pH 5,5 – 7,0 dan kadar gula reduksi (glukosa dan fruktosa) yang relatif rendah.

Nira yang sudah cocok untuk diproduksi kemudian dikumpulkan dalam ember atau baskom yang agak besar, lalu bahan tersebut sesegera mungkin langsung dimasak guna menghindari terbentuknya asam. 

Penyaringan

Sebelum dimasak, nira disaring terlebih dahulu untuk membuang sisa-sisa kotoran yang berupa bunga kelapa hingga serangga kecil seperti lebah dan semut. Penyaringan nira ini biasa menggunakan kain saring yang bersih sehingga hasil saringan dapat langsung ditampung di dalam wajan.

Proses Pemasakan

Wajan yang berisi nira bersih dipanaskan di atas sebuah tungku. Pada awal pemasakan, api harus besar untuk mempercepat proses penguapan. Hasil yang diinginkan adalah nira mendidih di suhu sekitar 110 celcius. Pada saat mulai mendidih, kotoran halus akan terapung ke permukaan bersamaan dengan buih nira. Nah kotoran-kotoran ini akan dibuang dengan menggunakan serok.

Pendidihan selanjutnya akan menimbulkan busa nira yang meluap-luap dengan warna coklat kekuning-kuningan. Sewaktu-waktu, nira yang mendidih ini harus diaduk secara perlahan guna menjaga agar buih nira tidak meluap ke luar wajan. 

Untuk mengurangi luapan buih, produsen biasanya akan menambahkan parutan kelapa, kemiri atau minyak goreng secukupnya. Bila pekatan nira sudah mengenal, api akan dikecilkan dan nira tetap diaduk-aduk sampai dilakukannya pengujian kekentalan dengan cara meneteskan pekatan nira ke dalam air dingin. Apabila tetesan tadi menjadi keras, berarti proses masak sudah cukup sehingga wajan dapat segera diangkat dari tungku. Sebelum memasuki tahap pencetakan, sangat wajib untuk melakukan pendinginan kurang hingga suhu dari gula kelapa turun menjadi 70 celcius.

Pencetakan

Setelah suhu turun menjadi 70 celcius, sesegera mungkin produsen akan melakukan proses pencetakan dengan cara pekatan nira dituangkan ke dalam cetakan bambu yang sebelumnya sudah telah direndam dan dibasahi dengan air untuk mempermudah pelepasan setelah gula kering. Setelah suhu gula turun sampai dengan suhu ruangan, barulah dilakukan pelepasan dari alat cetakan tersebut.

Pengemasan

Proses paling terakhir sekaligus menjadi salah satu proses paling penting adalah tahap pengemasan. Gula kelapa organik yang sudah selesai dicetak akan dikemas di dalam pouch atau semacamnya untuk menjaga kualitas dari gula.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Recent Posts
Follow our social media
Subsribe weekly news